April 08, 2015

Bodoh = Kurang Berusaha (Ceramah di Senin Bolong)

Sebenarnya ini isi ceramah saya di kelas Senin pagi kemarin. Karena beberapa mahasiswa keliatan udah mau give up aja sama matkul saya. Emang sih, apes-nya diriku.. megang matkul2 yang susah :( Yah, sekedar mau share aja di sini.

Ceramah aku awali dengan pertanyaan

"Siapa yang punya tabungan ?"
Sebagian besar pada angkat tangan.

"Kalian menabung, misal.. pengen beli mobil Ferrari, nih, itu.. langsung banyak, atau sedikit-sedikit ?"
Sebagian jawab sedikit-sedikit.

"Anak-anak (ciieee.. berasa tuwir), belajar itu sama dengan menabung."
Ya, belajar itu sama dengan menabung. Tidak ada yang instan dalam proses belajar. Semua dilakukan dengan sedikit-sedikit dan tekun. Belajar apapun (sampe di-bold dan underline). Mau belajar coding, bahasa, geografi, musik, nyanyi, gambar, masak, jahit, apapun. Kalo nggak rajin, nggak tekun, nggak pernah "menabung" ilmu, ya tidak akan pernah pintar dalam bidang itu.

Pernyataan ngeles yang sering dilontarkan manusia adalah: "aku bodoh/nggak pintar (dalam bidang itu)"
Well, it is totally NGELES!

"Jika kamu menganggap dirimu bodoh, berarti kamu merendahkan Penciptamu"
Kenyataannya, manusia (secara mayoritas) ketika lahir memiliki kondisi otak yang sama:

1. Otak manusia terdiri dari 10^13 (10 pangkat 13) neurons.
10^13 = 10.000.000.000.000 neurons.
Jika, 1 neurons = 1 byte
maka, otak manusia adalah prosesor terhebat sepanjang masa. Tidak ada mesin terhebat manapun yang mempunyai prosesor dengan kapasitas sebesar itu. Prosesor lho ya, bukan harddisk. Kalau pun ada, harganya... tak terjangkau uang manusia mana pun.


2. Otak bayi baru lahir dalam kondisi untrained, tanpa pengetahuan dan memori apa pun.
Tidak ada manusia yang baru lahir langsung memiliki setitik pengetahuan atau memori. Kenapa ? Karena memang otaknya masih baru, masih belum berkembang. Bagaimana otak manusia bisa berkembang ? Dengan BELAJAR. Ya, 10 trilliun neurons itu harus dilatih untuk menerima informasi, memberi respon, mengenali rasa, menyimpan memori, mengatur gerakan tubuh, dan lain sebagainya. Di dalam setiap neuron ada cairan yang akan bereaksi terhadap setiap input sinyal yang ia terima. Jika input yang diterima cukup kuat, maka neuron ini akan melanjutkan sinyal tadi ke neuron berikutnya. Jika input ini lemah, maka ia tidak melanjutkannya. Dengan cara itu lah neuron bekerja.
Sistem yang sederhana itulah yang melatih si neuron, alias otak, untuk menjadi pintar.  Semakin sering dilatih, si neuron akan semakin aktif. Artinya, jika kita kurang pintar terhadap suatu bidang, hal itu karena kita kurang melatih neuron otak kita yang bertugas di bagian itu. Sesederhana itu.

Nah, hal sederhana ini juga digunakan oleh para ahli untuk membuat ANN, Artificial Neural Network. Mereka mencoba meniru cara kerja sistem otak manusia. Tapi, tentu saja, tidak (akan) bisa menyamai kapasitas otak manusia. Neuron yang dipakai di ANN palingan berkisar di ribuan.. itu aja sudah butuh mesin yang super, kalo nggak.. jebol deh. Dengan cuma ribuan neuron saja, para ahli sudah bisa bikin robot/mesin yang cerdas. Masak, kita, yang punya neuron jauuuuuuh lebih banyak kalah cerdas sama robot ? ya nggak mu'in lah yaaaww.

"Ya, tapi... si A itu kok cepat sekali paham pelajaran matematika, cuma sekali-dua kali sudah langsung paham. Sementara saya belajar terus-terusan tetap saja nggak paham"

Memang benar, ada hal yang membedakan. Saya nggak tau kalo di otak kita yang asli namanya apa, tapi kalo di ANN, itu namanya bobot atau weight. Jadi, untuk berlatih merespon input, si neuron ini punya bobot untuk masing2 input yg masuk. Oya, juga punya bias. Nah, si bobot dan bias ini di awal algoritma nilainya random/acak/sembarang. Ketika neuron berlatih, sebenarnya neuron itu mengupdate nilai dari bobot-bobot dan bias miliknya hingga dapat memberikan respon yang tepat setiap ada input datang. Jika kebetulan nilai random dari bobot dan bias itu pas (tepak bahasa jawanya), si neuron hanya perlu sedikit berlatih, bahkan ada yg tidak perlu berlatih. Sementara, jika nilai random dari bobot atau bias tidak pas, bisa berlatih hingga ratusan kali, baru nilai bobotnya jadi pas. Begitu bobotnya pas, si neuron jadi pintar.

Jadi, untuk menjadi pintar, kita hanya perlu rajin berlatih dan belajar. Seberapa banyak kita perlu melakukannya, hanya Tuhan yang tau, karena tergantung dari nilai awal si bobot dan bias. Nggak perlu iri, karena nggak ada manusia yang sempurna. Ada yang punya bobot pas di bidang matematika (jadi cepat pintar masalah berhitung), tapi mungkin dia punya bobot yang tidak pas di bidang olah raga (artinya dia perlu banyak berlatih untuk mahir main basket, misalnya).

Jadi, boleh kah jika saya simpulkan kalau bodoh itu sebenarnya adalah kurang banyak berusaha melatih otak kita ? :)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar